Postingan

Sastra Lampung "HIWANG"

Gambar
Susastra Lampung: "Hiwang" “HIWANG” (SYAIR RATAPAN) SALAH SATU BENTUK KESUSASTRAAN LAMPUNG Ditranskripsikan dari naskah abad ke-19 beraksara “ka-ga-nga” oleh DRS. H. IRFAN ANSHORY ( BATIN KESUMA NINGRAT) Penyimbang Pekon Sukabanjar, Gunung Alip, Kab.Tanggamus H I W A N G (I) PERAHU anak cina, perayayini gumpeni, tangisku di dunia, hiwang kusanik nyanyi, naris nyak hilang nyawa, disan luhku tihili, budidayaku bela, pedomanku mak lagi, tepik pai kandang marga, nyak lapah dang peduli, hiwangku di duwara, amit di lawangkuri, lijung lain hak suya, ngandankon retok hati, kipak pekon kutangga, mak buguna di kuti, nyak buwok belah siwa, bitah di tengah resi, acak nyimbin dipa ya, nutuk nahasni rani, lapah pudaya-daya, wai robok kugindami, mak gegoh rik keduwa, wat kodo hulun redi, ramik rompok ngewada, lamon sai ngagi-agi, ratong segala cuba, sakik semanjang hari, mak nemu...

Way Mincang Pardasuka

Gambar
Bendungan Way Mincang oleh Agussani Gani Bendungan Way Mincang yang mengering Way Mincang adalah sebuah sungai yang melintasi kecamatan Pardasuka. Pada waktu dulu aliran Way Mincang sangat membantu masyarakat pardasuka dan sekitarnya dalam kapasitasnya sebagai sungai untuk mengairi persawahan di daerah Kedaung, Saputra, Tanjung Rusia, Sinar Gunung, Jati Agung, Suka Bandung, Kubu Banir dan pekon - pekon lainnya di Kecamatan Pardasuka. Bahkan di tempat - tempat tertentu Way Mincang menjadi tempat pavorit bagi anak - antak untuk mandi dan berenang di sungai yang dalam yang oleh masyarakat pardasuka disebut lubuk (bagian sungai yang dalam), terjun dari tempat yang tinggi lalu berenang ketepian sungai sambil berkejar - kejaran diantara mereka hingga sore tiba. Namun sekarang semua itu hanya tinggal cerita dan kenangan belaka karena Way Mincang sudah tak mengalir lagi jangankan untuk berenang untuk mengairi sawah pun sulit yang tinggal hanya badan sungai dan bebatuan dasar s...